Halo semuanya🌞Apa kabar?
Aku baru aja selesai ujian tengah semester, jadi bisa nulis lagi hehehe.
Sebelum masuk ke topik, aku mau mengucapkan Minal Aidzin Wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Selamat berpuasa bagi yang menjalankan 🙏
Di hari Sabtu, tanggal 26 Mei 2018, setelah sholat subuh, aku menonton video di Youtube dari channel Dingo. Dingo merupakan channel Youtube dari Korea. Sebelum baca tulisan yang ada dibawah, aku sarankan kamu tonton dulu video dibawah ini, biar nantinya lebih paham.
Langsung klik aja salah satu dari link dibawah ini, tiga - tiganya juga boleh kok.
What If a Job-Seeker Asked You For Help With His Tie?
What if a father asked you for advice about his rebellious teenager?
![]() |
| Screenshot salah satu video yang disebut diatas |
Gimana? mendadak mellow kan:') wkwkwk
Jadi ya, sambil bermellow - mellowan, aku inget hal ini.
Banyak orang bilang, jangan jadi orang yang terlalu baik. Pasti kalian juga nggak asing kan dengan saran yang tadi? Tapi setelah aku nonton video ini, secercah harapan kalau dunia ini tuh sebenarnya baik, muncul lagi.
Kalian pernah terpikir nggak sih kenapa orang - orang menyarankan jangan jadi orang yang terlalu baik? Menurutku ya karena lingkungannya aja yang membuat manusia bisa berbuat jahat, demi sesuap nasi.
Karena pengalaman dijahatin orang, semakin lama aku tumbuh semakin tinggi benteng aku sama orang lain. Walaupun dengan orang terdekat, masih ada jarak yang dengan sengaja aku batasi. Naik angkutan umum, pasti masang muka jutek atau diam malah memakai masker supaya tidak digubris. Berusaha keras untuk tidak melakukan eye contact. Selalu was was. Secara konstan narik tas ke dekapan. Mau tidak mau harus begitu.
Sebenarnya ya, kalau boleh jujur aku tidak mau bersikap begitu, yang selalu was was sama orang dan akhirnya menjaga jarak. Alasannya satu, saya tidak mau terlalu sakit kalau nantinya disakitin.
Saya pernah ditipu sama sahabat saya sendiri. Lebih tepatnya, saya sama sekali tidak dihargai sampai akhirnya saya memutuskan untuk tidak mau bekerja lagi dengan dia. Rasanya antara tidak percaya dan kecewa.
Iya memang, dunia ini bukan pelangi. Melainkan dunia ini adalah isi dari semua warna, macam - macam dalamnya. Dan sampai sekarang pun, aku masih belum bisa sepenuhnya menerima, kalau dunia ini dalamnya bukan warna yang indah - indah saja pada umumnya.
Contoh kecilnya, ada orang lain minta gantian tempat duduk di angkutan umum, tapi setelah kita beri, yang kita dapatkan malah muka yang acuh. Karena sudah terbiasa dengan senyuman, jadinya pas mengalami hal seperti ini aku langsung bertanya - tanya pada diriku sendiri.
Tapi setelah aku bertukar cerita dengan sahabatku, aku sadar kalau aku tidak sendirian. Semua mengalami hal itu. Misalnya lelah dengan tugas dan deadline yang menumpuk, masalah keluarga, merasa kesepian dalam keramaian, patah hati, itu semua dialami oleh orang orang. Akhirnya aku simpulkan, kalau hal ini adalah hal yang normal di kehidupan.
Walaupun warna itu bermacam - macam, tetapi semuanya indah. Tergantung dari sisi mana kita memandang. Semoga aku, dan kamu bisa lebih menerima warna - warna lain. Saling memahami, melengkapi, dan membantu. Selalu menjadi orang yang baik, namun tetap dapat bersikap tegas di waktu yang tepat. Agar semua menjadi lebih baik, aku yakin itu.
Jadi, Apa Warna Mu?


