Pengalaman Pertama Membuat Naskah Monolog "Penjaga Lift"

Buku Monolog pendek pertama aku dan teman - teman๐Ÿ˜ƒ

 

 

Hai kawan!

Setelah ngepost perkenalan aku, aku mau cerita tentang salah satu karya yang aku buat untuk pertama kalinya.
Jadi, di jurusan kuliah aku, yaitu Performing Arts of Communication, ada mata kuliah "Writing". Mata kuliahku ini diajar oleh Pak Arswendo Atmowiloto atau yang sering dipanggil dengan Pak Arswendo, didampingi dengan assistant lecturer yang bernama Pak Endang Purnomo, atau yang akrab dipanggil dengan Mas Doyok. Dari mata kuliah ini, aku belajar hal - hal dasar dari menulis. Pertama kali, aku dikasih tugas untuk menulis tentang diriku sendiri, dari hobi, kelebihan, kekurangan, apa yang disenangi dan ditakuti. Setelah itu, semua anak mempresentasikan apa yang ditulis didepan kelas.

"Begitu doang pelajarannya?" iya, pasti kebanyakan orang langsung berpikir begitu. Tapi, dari sini aku belajar kalau sebenernya sampai sekarang pun aku masih labil dalam mendeskripsikan diriku sendiri, maksudnya adalah aku belum mengenal diriku sendiri sepenuhnya.  Lalu, aku dan teman - teman disuruh membuat cerita pendek dan cerita imajinasi. Imajinasi yang seliar - seliarnya. Ada yang bercerita tentang jadi perampok keren di luar negeri sampai ada yang jadi pacarnya Justin Bieber. Dan aku mengimajinasikan bagaimana kalau menjadi sebuah pintu, pintu sekolah di rerumputan yang luas, ditemani oleh rumah pohon.

Ujian tengah semester pun datang, dan Pak Arswendo menugaskan kelasku untuk membuat monolog dengan durasi sekitar 5 menit, tentang apa saja, dan dijadikan buku. Akhirnya jadilah buku yang gambarnya ada diatas. Bagus kan?๐Ÿ˜‹ hehehe yang mendesign cover bukunya yaitu teman kelasku namanya Michelle Reyvina. Ini aku cantumin contact Michelle ya, kalau ada yang butuh design bisa langsung contact aja. Klik aja ini instagramnya Michelle.

Di dalam buku ini ada 31 naskah monolog, yang punya ciri khas masing - masing. Horor ada, realistic ada, fiktif ada, macam - macam deh.
Nah, di ujian ini, untuk pertama kalinya aku membuat naskah monolog. Awalnya aku sangat amat bingung, karena ternyata membuat naskah monolog itu sulit, menurutku. Karena monolog hanya dimainkan satu aktor dan setiap katanya harus tersampaikan ke penonton dan pembaca.

Selama minggu tenang sebelum ujian berlangsung, aku terus berpikir apa topik atau tema yang mau aku angkat. Lalu suatu hari, aku lagi jalan ke mall sendiri (iya sendiri), sampai saatnya mataku tertuju ke sebuah lift. Entah kenapa, lift itu menarik perhatianku sampai aku memutuskan untuk membuat cerita tentang lift. Tapi dari sini belum selesai, belum alur dan perannya. Dan akhirnya aku mendapatkan pokok - pokok ide dari mimpiku. Iya, mimpiku saat tidur. Salah satu kebiasaanku adalah mencatat jalan cerita mimpiku setelah bangun tidur. Cepat - cepat deh tuh takut keburu lupa. Nah dari situ, aku ambil sedikit untuk disesuaikan dengan cerita. Selama proses juga, aku banyak bertanya ke sahabatku yang sudah lama bergelut di bidang teater, namanya Dayang. Dayang ini ngebantu banyak banget. Ada juga Kinan, Farra, Putri, Keluargaku sendiri (Mama, Chieiko), Goban (Pelatih Teater Gong) yang nggak capek - capek meladeni pertanyaan aku. Sampai pada akhirnya, jadilah seperti yang dibawah ini. Pokok - pokoknya kutulis, dan alur ceritanya aku buat saat ujian berlangsung.

Naskah monolog ini menceritakan tentang seorang gadis yang bekerja sebagai penjaga lift, dengan lika - liku hari - harinya selama bekerja, dan bagaimana perasaan dan kebimbangan penjaga lift ini disimbolkan dengan imajinasi si gadis ini. Okedeh langsung aja baca naskah monolog "Penjaga Lift" dibawah ini ya. Selamat membaca!   

 ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 

“Penjaga Lift”

Oleh Tamara Zahra Uliniansyah


Sudah sekian tahun aku selalu mendengarkan bunyi – bunyi yang dihasilkan manusia. Hari demi hari. Aku heran mengapa manusia tahan dengan rutinitas mereka yang sangat membosankan. Ketika aku masih bekerja, hidupku penuh dengan warna. Setiap aku mendongak ke atas, aku melihat langit seakan bercampur dengan gulali yang berwarna putih. Sekarang, yang kulihat hanyalah atap yang menyekat imajiku.

Dulu, waktu kulitku tidak ada garis – garis halus, aku mempunyai banyak teman yang bisa dibilang, sangat beragam. Mungkin kalian akan takut jika bertatap wajah dengan mereka. Karena mereka itu beda spesies dengan kalian. Tapi jangan salah, mereka sangat ramah dan baik. Namun, yang terbaik dari yang terbaik adalah orang yang selalu mengantarku ke tempat kerja setiap pagi. Dengan motor ajaibnya yang mempunyai sayap yang lebar disamping badannya. Namanya Mr.. Mr.. ah sampai kapan aku terus menjadi pikun seperti nenek – nenek, aku sudah lelah seperti ini. 

Aku ingat! Tombol – tombol angka yang berurutan. Dari lantai bawah tanah sampai langit – langit. Laut. Ombak biru yang berdesir. Kerang – kerang kecil berkumpul menjadi satu, layaknya seorang teman. Angin yang bercampur dengan hawa dan bau khas laut, membuat hati tenang, seakan tidak ada masalah di dunia ini. Gugur. Jingga mendominasi pemandangan yang indah ini. Daun – daun kering berjatuhan dari sanggarnya yang ikhlas melepas keluarganya. Rapuh, cokelat, seperti menggambarkan kedamaian dan.. Balon. Dimana balon itu? Dimana? Karena balon itu sekarang aku terperangkap di ruangan putih.

Ya, Putih. Tidak ada siapa – siapa. Aku bukan diriku disini. Aku berteriak tolong, tolong.. Tidak ada yang datang. Saat itu, terlintas akan tombol yang bertuliskan angka, yang setia menempel di sudut tempat kerjaku. Teman – temanku, dan juga “Mr. yang aku lupa namanya siapa”. Aku menyesal, aku tidak ingin kesini. Sekarang aku paham, mengapa aku dilarang Tuhan untuk pergi ke tempat ini.

Aku ingat. Dari balik pintu lemari, kudengar suara ini dimainkan oleh makhluk yang sangat tinggi, kepalanya yang lonjong dihiasi topi sirkus. Lalu diatas piano itu, ada sebuah lilin yang apinya tidak pernah padam, sama sepertiku. Padahal, melalui lubang cahaya, angin terus menunjukkan kekuatannya. Namun saat kuhembuskan napasku ke arah lilin tersebut, janggalnya api itu langsung padam, sama juga sepertiku.

Dan inilah diriku yang sekarang. Seperti laut yang tenang namun polos tanpa kerang – kerangnya. Seperti musim gugur, damai namun juga rapuh. Andai saja saat itu aku tidak mengejar balon itu, mungkin aku masih bekerja di atas sana. Entah apa yang terlintas di benakku hingga aku mengejar balon itu. Mungkin saja sebenarnya diam – diam aku mendambakan hal ini. Menjadi manusia.

Anakku, jangan kamu abaikan profesi ini ya. Mungkin ini hal yang sederhana, dan mungkin terkesan berlebihan. Tapi cobalah untuk mengucapkan terimakasih, sekecil apapun yang orang lain lakukan untuk dirimu.

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates