LANJUTAN DARI 🠆 Anak Ipa kok Kuliahnya Jurusan Seni? - (1)
“Sebenernya bisa bisa aja aku masuk jurusan matematika, ipa, dan
yang lainnya. Tapi aku nggak bakal seneng ngejalaninnya dan pikiranku bakal ‘yaudah
yang penting lulus’. Karena, aku ini sifatnya kalau suka, ya suka. Kalau nggak
suka, ya nggak suka. Kalau disini (jurusan Pac), aku bisa belajar banyak, nggak
cuman seni aja tapi ada komunikasinya juga. Jadi menurutku peluang kerjanya
juga lebih banyak dan bermacam - macam. Kalau aku masuk jurusan seni, aku udah
pasti suka, dan bakal serius”.
Setelah diskusi, ditambah dengan aku tes
psikotes lagi buat nunjukkin ke Papa tentang bakat dan karakter aku, akhirnya
Alhamdulillah aku diizinin.
Kelihatannya lebay ya ngomongnya kayak begitu, sampai tes psikotes
lagi untuk yang kedua kalinya. Tapi ya memang harus begitu. Kalau emang kita suka
dan mau serius di bidang tertentu, kita juga harus bisa nunjukkin kalau kita beneran
serius. Ditambah, Papaku ini orangnya logika banget. Jadi harus ada hitam di
atas putih.
Tapi aku juga bersyukur punya orangtua yang pikirannya
terbuka. Walaupun harus tetek bengek dulu, tapi mereka pada akhirnya percaya.
Papa mamaku itu, yang penting aku serius dan bener kuliahnya. Dan bisa
nunjukkin itu. Jadi deh aku daftar di jurusan yang aku mau😁
Walaupun udah daftar juga di LSPR, Mama tetep ngomong, kenapa
nggak coba daftar juga di universitas negeri, yang penting kan kamu udah ada
pegangan universitas swasta. Tapi, guru SMA ku bilang, kalau kamu daftar, terus
kamu keterima tapi kamu nggak ngambil, nanti yang kena getahnya adek kelas kamu
dan sekolah. Akreditasinya jadi turun. Istilahnya udah dikasih tapi kok nolak,
padahal awalnya mau. Nah karena ini juga, jadi aku nggak mencoba untuk daftar
universitas negeri dan akhirnya konsentrasi ke ujian nasional.
Untuk tambahan informasi ajaa, keluargaku bukan keluarga
yang kaya raya melintir gitu kok. Keluargaku termasuk keluarga yang sederhana, yang
berkecukupan. Terus kenapa aku berani ngomong mau di swasta, karena dari awal
Mamaku pernah ngomong kalau orangtuaku udah nabung dari dulu, mereka percaya
sama aku asalkan kuliahnya bener, dan harus daftar swasta karena buat jaga
jaga. Walaupun tetep kok, sampe sekarang aku selalu ngerasa bersalah karena
orangtuaku harus ngebiayain mahal – mahal buat kuliah. Tapi ini aku jadiin
motivasi biar aku lebih bener kuliahnya, dan semoga kedepannya aku bisa kerja
yang menghasilkan yang nantinya bisa bantu keluarga, dan ngebahagiain mereka.
Aamiin🙏
Karena pernah.. ini aku curhat aja ya. Ada temen aku ngomong
kayak begini “tamara mah enak. masuk swasta mah gampang, yang penting kan ada
duit.” “enak ya tamara udah tenang, nggak usah mikir apa apa lagi.” “tamara kan
mamanya guru musik, jadi gampang dibolehinnya.” Hm..
Aku ngerti banget kalau keadaan waktu itu semua orang lagi
bingung, resah, takut nggak keterima dan segala macam. Tapi bukan berarti aku
nggak punya masalah sendiri. Semua punya masalahnya masing – masing. Untuk
mencapai ke titik tertentu itu nggak mudah. Terkadang, orang nggak melihat usaha
yang dari dulu kita kerjakan. Cuma hasilnya aja yang dilihat. Bukan berarti,
orang yang kelihatannya mudah mencapai sesuatu, itu berarti mereka nggak
mengeluarkan keringat. Itu bisa aja luarnya doang, tapi kita nggak pernah tau apa
yang ada dibalik itu semua.
*tarik nafas* *buang* *tarik nafas* huuuuf😙
Jadi, buat kalian yang mungkin sekarang lagi duduk di kelas
3 SMA. Pasti banyak banget dari sana sini ngasih pertanyaan seputar kuliah.
Apalagi pas kita lagi di acara keluarga wkwkwk. Ditambah, ya kayak yang aku
curhat tadi. Ada beberapa orang yang meremehkan, padahal orang - orang
terdekat.
Tapi, kuncinya yaitu sabar. Jangan nyerah. Jangan berhenti di
situ aja. Kenalin diri kamu dulu. Harus banyak nanya. Cari tahu. Jangan sampe
nyesel nantinya. Apapun keputusan kamu, asal kamu yakin, yaudah jalanin. Dan
satu hal lagi, jangan terlalu ambisius. Bukan berarti kamu males – malesan,
bukan. Tapi kamu juga harus tau batasan dan kekurangan kamu.
Karena, pada akhirnya, kita ini manusia.
Sayangin diri kamu dulu, karena nantinya yang akan menjalani kuliah, ya kamu sendiri.
Bukan orangtua kamu, guru kamu, apalagi orang lain.

